Chat with us, powered by LiveChat Example

Kena Denda Besar, Rizieq Tak Bisa Pulang, Ke Mana 7 Juta Umat 212?

  emaspk1.com

BERITA EMAS

Rizieq sampai saat ini tidak bisa pulang karena berbagai alasan. Tapi ada satu (mungkin dua) alasan yang lebih masuk akal mengapa dia tidak bisa pulang. Yang pertama adalah tersandung kasus hukum di Indonesia. Meski sebagian sudah di hentikan, tapi masih ada sebagian lainnya yang masih menunggu.

Sedangkan alasan lainnya diungkapkan oleh Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, yang ada faktor lain yang menjadi kendala untuk Rizieq bisa kembali ke Indonesia. Menurut dia, Rizieq belum bisa kembali ke Indonesia, karena adanya denda akibat masa tinggal melebihi batas waktu yang diizinkan oleh Arab Saudi.
Ya, bayar denda overstay satu orang Rp 110 juta. Kalau lima orang tinggal, kalikan saja," kata Agus.

Denda ini harus dibayar oleh Rizieq sendiri, dan bukan tanggungan pemerintah. Rizieq juga harus bersih dari kasus hukum di Arab Saudi, untuk bisa balik ke Indonesia. Sebab, jika membayar denda, tetapi seseorang masih terkendala kasus hukum, sama saja tidak akan bisa keluar dari Arab Saudi.

Namun, terkait ada atau tidaknya kasus hukum Habib Rizieq di Arab Saudi, Agus tidak mengetahuinya. "Yang bisa jawab yang bersangkutan. KBRI hanya akan memberikan pendampingan kekonsuleran jika ada masalah hukum. Ini berlaku semua WNI di Saudi," kata.

Sejauh ini, Habib Rizieq tidak ada mengajukan pendampingan kekonsuleran, sehingga diduga tidak ada kasus hukum di Arab Saudi. Masalah yang membelitnya, hanyalah mengenai overstay yang harus diselesaikan dengan cara membayar denda.

Overstay ini pernah diulas oleh media. Rizieq tetap tinggal di sana meski masa ijin tinggal di sana telah habis masa berlakunya. Mari kita hitung-hitungan sebentar. Jika satu orang harus membayar sekitar Rp 110 juta, dan lima orang menjadi Rp 550 juta, bagaimana Rizieq bisa membayar sebanyak itu?

Mungkinkah ini alasan mengapa Rizieq dijadikan sebagai syarat untuk rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo? Jika pemerintah oke dengan syarat tersebut, maka Rizieq akan dipulangkan, mungkin sekalian bayar dendanya. Kalau memang begitu niatnya, wah, ini benar-benar cerdik. Tapi sayang pemerintah tidak akan sebodoh itu.

Rizieq pergi sendiri, kabur tanpa pemberitahuan sebelumnya, dengan alasan umroh dan menjadi tamu istimewa Raja Arab Saudi. Masa pulang harus dijemput? Memangnya siapa orang ini hingga harus dibebaskan dan disambut layaknya VIP? Banyak orang yang tidak akan rela kalau negara mengeluarkan duit untuk membayar dendanya dan membebaskannya. Pergi sendiri, harus pulang sendiri juga.

Dan lucunya, masa tamu istimewa terlantar di sana? Ini benar-benar lucu sekali. Pendukungnya selama ini terlalu pendek pikirannya sehingga mau-mau saja dijejali informasi gila seperti ini. Tamu istimewa raja, biaya hidup ditanggung pemerintah Arab Saudi, mau pulang dipinjamkan pesawat jet pribadi, visa unlimited. Propaganda yang benar-benar sangat konyol dan tidak berperikekampretan.

Jika tidak ingin membayar denda, Rizieq bisa menggunakan opsi lain, yaitu harus menunggu saat pengampunan atau amnesti denda overstay dari Kerajaan Saudi Arabia. Terakhir kali Kerajaan Saudi Arabia memberikan amnesti, yakni pada tiga tahun yang lalu.

Selain menunggu amnesti, cara lainnya agar kembali tanpa membayar denda overstay, adalah dengan cara meminta pihak Imigrasi Arab Saudi untuk mendeportasi Habib Rizieq. Cara ini prosesnya cukup panjang dan dibilang cukup ekstrem, karena sekitar enam sampai sepuluh bulan yang bersangkutan harus dipenjara di imigrasi. Risikonya juga cukup tinggi, yakni yang bersangkutan tidak boleh kembali ke Arab Saudi selama lima tahun.

"Ada juga dengan menempuh jalan ekstrem untuk pulang yaitu dengan cara menangkapkan diri. Artinya, kita datang ke detensi imigrasi, agar ditangkap dan dideportasi. Tetapi, prosesnya agak panjang bisa enam sepuluh bulan di penjara imigrasi sebelum deportasi," kata Agus.

Jalan ektrem ini takkan berani dilakukan oleh Rizieq karena kita tahu dia ini hanya jago kandang. Hanya berani saat ada pendukungnya, di Arab Saudi dia bukan apa-apa dan tidak berani apa-apa. Buktinya saat tersandung masalah hukum, dia kabur ke Arab Saudi. Kalau pemberani, dia takkan kabur ke mana pun.

Sebenarnya ada opsi yang paling mudah yaitu minta tolong 7 juta umat untuk galang dana. Satu orang cukup sumbang 100 perak, maka total bisa dapat Rp 700 juta. Lebih dari cukup untuk bayar denda dan naik pesawat kelas bisnis untul balik lagi ke Indonesia. Masalahnya kemana kah 7 juta orang itu, kok tidak mikir sampai ke situ? 100 perak per orang sangat mudah sekali lho.

Bagaimana menurut Anda?